Malang, http://gajayanatvnews.com – Polemik busana khas Kota Malang yang baru saja diresmikan saat ulang tahun Kota Malang, menjadi topik hangat di masyarakat. Hal ini dibahas dalam sebuah podcast dialog oleh Gajayana TV yang menghadirkan beberapa budayawan dan pemerhati budaya di Pawon Kampung Budaya Polowijen, pada Jumat (10/4/2026). Dalam diskusi tersebut, busana khas tidak hanya dilihat sebagai simbol identitas daerah baru, tetapi juga membuka ruang dialog tentang makna, sejarah, dan keterlibatan masyarakat dalam proses penetapannya.
Ki Demang, penggagas Kampung Budaya Polowijen, berpendapat bahwa Malang memiliki sejarah panjang yang membentuk karakter budayanya, mulai dari Kerajaan Kanjuruhan, Singosari, hingga Majapahit.
“Semua perjalanan sejarah itu membangun karakteristik khas Malang. Busana bukan hanya tampilan, tapi mencerminkan jati diri seseorang,” katanya.
Namun, ia mengungkapkan bahwa munculnya polemik tidak lepas dari persepsi sebagian masyarakat yang menilai busana tersebut lebih dekat dengan nuansa era kolonial. Selain itu, ada kekhawatiran terkait dampak jika busana tersebut digunakan secara luas oleh masyarakat.
“Yang menjadi pertanyaan, kiblat Malang ini ke mana? Karena masyarakat pada umumnya juga tidak menggunakan busana seperti itu,” tambahnya.
Ki Demang juga menyoroti minimnya pelibatan masyarakat dalam proses penetapan. Menurutnya, masih banyak referensi busana lokal yang bisa diangkat, seperti busana Basofi atau Sembong, termasuk motif jarik khas seperti Kawung dan Gringsing.
“Kalau tahun ini digunakan, tidak masalah. Kita apresiasi. Tapi ke depan bisa dikaji lagi agar lebih mengakomodasi harapan masyarakat,” katanya.
Sementara itu, KR. Ngt.Tara Dhwaraparahita dari perkumpulan Kain Kebaya Indonesia (KKI) Malang dan Matra Jatim menekankan bahwa perkembangan busana merupakan hal yang wajar, namun tetap perlu menjaga nilai tradisi. “Boleh berkreasi mengikuti zaman, tapi jangan meninggalkan nilai budaya,” ujarnya.
Prof. Dr. Roby Hidajat, Guru Besar Universitas Negeri Malang, melihat fenomena ini sebagai bagian dari dinamika budaya yang menarik untuk dikaji. Ia menjelaskan bahwa pengaruh poskolonial memang menjadi salah satu aspek yang kerap muncul dalam perkembangan budaya di negara-negara bekas jajahan.
“Kalau itu fashion, wajar kalau berubah. Tapi kalau menjadi simbol identitas, perlu ada kesepahaman dan rasa memiliki dari masyarakat,” katanya.
Di tengah beragam pandangan yang muncul, peresmian busana khas ini menjadi momentum refleksi bersama. Harapannya, ke depan akan ada ruang dialog yang lebih inklusif sehingga identitas budaya yang dihadirkan benar-benar tumbuh dari, oleh, dan untuk masyarakat Malang.(gis)












