Malang, http://gajayanatvnews.com – Himpunan Mahasiswa Kehutanan sukses menggelar acara Nonton Bareng (Nobar) dan diskusi kritis film “Pesta Babi” pada Senin (18/5) di Andhap Ashor, Kota Malang. Mengusung fokus utama pada penguatan nalar publik dan pelibatan gerakan literasi, agenda ini dihadiri oleh sedikitnya 260 peserta yang merupakan representasi mahasiswa lintas kampus besar di Malang, seperti Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Malang (UM), Universitas Islam Malang (UNISMA), dan Politeknik Negeri Malang (Polinema).
Sebagai kolaborator utama yang menggerakkan jalannya diskusi, Komunitas Literasi Kritis menghadirkan akademisi dan pakar literasi, Dr. Andri Fransiskus Gultom, M.Phil untuk membedah substansi film serta kaitannya dengan realitas agraria kontemporer secara tajam. Dalam pemaparannya yang diulas oleh Komunitas Literasi Kritis, Dr. Andri membongkar realita pahit di balik Proyek Strategis Nasional (PSN) kelapa sawit dan tebu seluas 2,5 juta hektar di Papua Selatan yang kini mengancam eksistensi hutan hujan terakhir di Asia. Proyek ini dinilai bukan sekadar program pertanian biasa, melainkan sebuah rekayasa ekologi dan demografi terbesar dalam sejarah modern Papua yang menargetkan wilayah adat Suku Marin, Muyu, Auyu, dan Yainan.
Lebih jauh, Ia menjelaskan esensi utama dari istilah “Pesta Babi” yang menjadi sorotan utama. Berdasarkan paradigma adat Papua, Pesta Babi merupakan sebuah siklus ekologi, daya hidup, dan strategi aliansi politik antar-marga untuk melakukan konsolidasi adat. Melalui ritual perlindungan hutan ini, masyarakat adat mampu membangun benteng pertahanan ekologis yang kokoh guna melawan intervensi eksternal dari korporasi global maupun domestik.
Himpunan Mahasiswa Kehutanan selaku penyelenggara menegaskan bahwa tema pelibatan Komunitas Literasi Kritis menjadi poin krusial untuk membuka mata generasi muda, khususnya mahasiswa kehutanan. Sinergi ini diharapkan mampu memantik kesadaran kritis mahasiswa agar tidak hanya melihat hutan sebagai komoditas kayu, melainkan sebagai ruang diskusi kritis yang memberi kehidupan bagi kebudayaan manusia di dalamnya. (*)






