Malang, http://gajayanatvnews.com – Di tengah hiruk-pikuk kawasan bersejarah Kayutangan yang mulai memanas oleh terik matahari pagi, sebuah sudut di Gramedia Kayutangan, Klojen, Kota Malang, justru menawarkan atmosfer yang kontemplatif. Pada Sabtu (18/4/2026), tepat pukul 10.00 WIB, sekitar 95 orang yang terdiri dari mahasiswa S1, S2, dosen, hingga akademisi lintas disiplin berkumpul dengan satu kegelisahan intelektual yang sama: mempertanyakan identitas pemikiran bangsa melalui buku terbaru karya Dr. Andri Fransiskus Gultom, M.Phil. yang bertajuk “Adakah Filsafat Indonesia?”.
Acara yang diinisiasi oleh Komunitas Literasi Kritis ini bukan sekadar bedah buku biasa. Ia menjadi ruang gugatan atas anggapan lama bahwa Indonesia hanyalah “konsumen” pemikiran Barat atau Timur Tengah. Diskusi ini menghadirkan dua pemikir luar biasa dari kampus ternama di Malang, yakni Dr. Hipolitus Kristoforus Kewuel, M.Hum. (Universitas Brawijaya) dan Prof. Dr. Pieter Sahertian, M.Si. (Universitas Ma Chung).
Lahir dari Keraguan, Tumbuh dari Rasa Penasaran
Membuka diskusi, Dr. Andri tidak langsung menyuguhkan definisi kaku. Sebaliknya, ia memulai dengan sebuah pengakuan personal yang jujur. Buku ini, menurutnya, dimulai dan dipicu dari rasa bimbang dan rasa penasaran yang mendalam terhadap apa yang sebenarnya disebut sebagai “ke-Indonesia-an”.
“Situasi ini dimulai saat adanya Simposium Filsafat Indonesia di Jakarta beberapa waktu lalu, yang secara provokatif mempertanyakan keberadaan Filsafat Indonesia,” ujar Dr. Andri di hadapan audiens yang menyimak dengan saksama.
Dr. Andri menegaskan bahwa selama ini dunia internasional mungkin lebih mengenal Indonesia karena kekayaan sumber daya alamnya (natural resources). Namun, ia berargumen bahwa bangsa ini memiliki aset yang jauh lebih berharga namun sering terabaikan, yaitu thinker resources atau sumber daya pemikir. Baginya, tugas para intelektual saat ini adalah menggali “sumber pemikiran” tersebut untuk merumuskan apa yang menjadi jati diri kefilsafatan kita.
Abstraksi dan Keberanian Intelektual
Sebagai pengulas pertama, Dr. Hipolitus Kristoforus Kewuel membawa perspektif sosiologi-budaya dalam membedah karya tersebut. Dosen filsafat Universitas Brawijaya ini menekankan bahwa diskusi mengenai eksistensi filsafat Indonesia adalah bentuk refleksi budaya yang sangat krusial.
Dengan nada suara yang penuh semangat, Dr. Hipo, sapaan akrabnya, melemparkan sebuah premis yang memantik nalar peserta: “Dalam filsafat, semakin abstrak suatu pemikiran, maka semakin mendekati kebenaran.”
Ia memuji keberanian Dr. Andri dalam menulis buku ini. Menurutnya, mengajukan pertanyaan “Adakah?” adalah sebuah langkah politis-intelektual yang berani untuk menyuarakan bahwa bangsa Indonesia bukan bangsa yang kosong secara pemikiran. Dr. Hipo ingin memberikan garansi psikologis kepada audiens agar tidak pulang dengan tangan hampa.
“Sepulang dari diskusi ini, seluruh audiens harus yakin dan membusungkan dada bahwa filsafat Indonesia itu benar-benar ada, bukan sekadar angan-angan,” tegasnya yang disambut riuh tepuk tangan. Di akhir ulasannya, Dr. Hipo mengajukan pembedaan antara rasio dan rasa. Rasio diagung-agungkan dalam filsafat Barat, sedangkan rasa menjadi penciri Filsafat Timur. Menurutnya, dalam kehidupan, keduanya, baik rasio dan rasa sebaiknya digabungkan.
Filsafat sebagai Mesin Kemajuan Bangsa
Jika Dr. Hipo melihat dari kacamata refleksi budaya, Prof. Dr. Pieter Sahertian memberikan ulasan yang lebih praktis, inovatif, dan visioner. Guru Besar Universitas Ma Chung ini menjangkarkan eksistensi filsafat pada kemajuan sebuah negara.
Menurut Prof. Pieter, filsafat membumi yang ditandai dengan kemajuan suatu negara. Justru, kuat tidaknya pondasi filsafat sebuah bangsa akan menentukan sejauh mana sains dan teknologi mereka berkembang.
“Negara yang maju adalah negara yang memiliki filsafat yang kuat dan mampu menerapkannya dalam pengembangan sains,” ucap Prof. Pieter. Ia mengambil contoh konkret dari China dan Jepang. Kedua negara tersebut mampu menjadi raksasa dunia karena tetap memegang teguh “Filsafat Timur” yang khas. Identitas filosofis itulah yang memberi warna, arah, dan daya dorong bagi kemajuan ekonomi serta teknologi mereka. Indonesia, menurutnya, harus melakukan hal yang sama jika ingin keluar dari bayang-bayang negara berkembang.
Dialektika: Antara Nusantara, Pancasila, dan Identitas Fragmentaris
Setelah pemaparan dari para narasumber, suasana semakin hangat saat moderator, Mbak Nala, membuka sesi tanya jawab. Salah satu peserta melontarkan pertanyaan tajam yang menjadi inti dari perdebatan filsafat di tanah air selama ini:
“Bagaimana kita membedakan antara Filsafat Indonesia, Filsafat Nusantara, dan Filsafat Pancasila? Apakah ketiganya adalah hal yang sama atau justru saling tumpang tindih?”
Menanggapi hal tersebut, Dr. Andri memberikan penjelasan yang menjernihkan. Ia menekankan bahwa dalam bukunya, ia mencoba menarik garis tegas agar Filsafat Indonesia tidak terburu-buru jatuh ke dalam jurang “ideologisasi”. Ia merujuk pada pengalaman masa Orde Baru, di mana pemikiran kritis seringkali dibatasi oleh penafsiran tunggal atas Pancasila.
“Kekhasan Filsafat Indonesia perlu diakui secara beragam dan fragmentaris. Ia tersebar dalam kekayaan budaya di setiap wilayah Indonesia, dari Sabang sampai Merauke. Kita tidak boleh terjebak dalam satu definisi tunggal yang hegemonik,” jelas Dr. Andri.
Filsafat Indonesia, dalam pandangannya, adalah sebuah mosaik. Ia terdiri dari potongan-potongan kearifan lokal yang jika disatukan akan membentuk sebuah wajah pemikiran yang utuh namun tetap menghargai perbedaan tiap fragmennya.
Sebuah Langkah Awal, Bukan Akhir
Diskusi berakhir tepat pada pukul 12.00 WIB, namun diskusi-diskusi kecil di sudut-sudut toko buku masih terus berlanjut. Kehadiran hampir seratus peserta menunjukkan bahwa haus akan pemikiran mendalam masih sangat terasa di Kota Malang yang dikenal sebagai kota pendidikan.
Buku Dr. Andri Fransiskus Gultom ini seolah menjadi pemantik api dalam sekam. Ia tidak hanya memberikan jawaban, tetapi justru memberikan lebih banyak pertanyaan yang menantang generasi muda untuk terus menggali. Bahwa menjadi Indonesia bukan hanya soal memegang paspor hijau, tetapi soal bagaimana kita berpikir, berefleksi, dan meletakkan dasar kebijaksanaan dalam bertindak di tengah dunia yang kian kompleks.
Melalui diskusi di Gramedia Kayutangan ini, satu pesan kuat tersampaikan: Filsafat Indonesia itu ada, ia hidup di dalam dialektika, dalam keraguan yang produktif, dan dalam keberanian kita untuk mengakuinya.






