Malang, http://gajayanatvnews.com – Dalam rangka memperingati R.A. Kartini, Srikandi Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) Malang Raya menggelar dialog kebangsaan bertema “Refleksi Perjuangan R.A. Kartini dari Sudut Pandang Agama dan Kepercayaan di Indonesia”. Kegiatan ini dilaksanakan pada Minggu (19/4/2026), bertempat di Aula Asumpta Gereja Katolik MDKS, Jalan Bunga Lely No. 27, Kota Malang.
Acara tersebut dihadiri sekitar 80 peserta yang merupakan perwakilan dari berbagai organisasi dan lembaga lintas agama, di antaranya Wanita Katolik Republik Indonesia (WKRI) Keuskupan Malang, Wanita Hindu Dharma Indonesia (WHDI), Puanhayati, Fatayat Nahdlatul Ulama (Fatayat NU), Wanita Theravāda Indonesia (Wandani) Kota Malang, Forum Bhineka Muda, serta Jemaat MDKS Lely.
Ketua panitia yang juga Ketua Srikandi FKAUB Malang Raya, Dra. Theresia, dalam laporannya menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan memperkuat semangat kebhinekaan melalui refleksi nilai-nilai perjuangan Kartini yang relevan dengan kehidupan masyarakat Indonesia yang majemuk.
Dialog kebangsaan ini menghadirkan sejumlah narasumber dari berbagai latar belakang agama dan organisasi perempuan. Di antaranya Luluk Dwi Kumalasari, S.Sos., M.Si. sebagai perwakilan Muhammadiyah, serta Widiarini, M.Kes. dari Fatayat NU. Dari unsur Buddha hadir Metta Puspita Dewi, M.Pd. dari Wandani Kota Malang, sementara dari Katolik tampil Anastasia Ida Soesanti yang juga merupakan anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kota Malang.
Selain itu, turut hadir sebagai pembicara perwakilan lintas kepercayaan lainnya, yakni Sienny Vivi Irawati dari Presidium Konghucu, Bethari Putri Hyang Taya dari Presidium Kristen, Indah Trianingsih dari Presidium Penghayat, serta Ni Nyoman Ayu Shri Smertini Adhi dari Presidium Hindu. Para narasumber menyampaikan pandangan masing-masing terkait nilai perjuangan Kartini dalam perspektif ajaran dan praktik keagamaan.
Sekretaris Jenderal FKAUB Malang Raya, Pdt. David Tobing, dalam kesempatan tersebut mengapresiasi terselenggaranya kegiatan ini. Ia menilai dialog lintas iman seperti ini merupakan wujud nyata dalam merawat dan memperkuat kebhinekaan yang telah tumbuh di Kota Malang, yang dikenal sebagai Bhumi Arema.
Melalui kegiatan ini, diharapkan semangat perjuangan Kartini tidak hanya dipahami sebagai bagian dari sejarah, tetapi juga dapat diimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam membangun toleransi, kesetaraan, dan persatuan di tengah keberagaman masyarakat Indonesia.(wg1)






