Malang, http://gajayanatvnews.com – Dalam rangka memperingati Hari Kemerdekaan Republik Indonesia ke-81, penguatan nilai-nilai Pancasila di kalangan generasi muda menjadi salah satu perhatian. Pemahaman dan penghayatan terhadap nilai-nilai Pancasila dinilai masih menjadi tantangan, terutama dalam penerapannya di kehidupan sehari-hari.
Hal tersebut menjadi salah satu pembahasan dalam Focus Group Discussion (FGD) bertema “Strategi Penguatan Nilai-Nilai Pancasila dan Cinta Tanah Air di Tengah Potensi Masyarakat Terbelah” yang digelar di Kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (15/8/2026).
Kegiatan yang bekerja sama dengan Program Doktor Sosiologi Pascasarjana UMM tersebut menghadirkan lima pemateri yang membahas nilai-nilai Pancasila dari berbagai sudut pandang. FGD diharapkan menjadi ruang untuk memperkuat pemahaman masyarakat, khususnya generasi muda, agar tidak hanya memahami Pancasila secara teoritis, tetapi juga mampu mengimplementasikan nilai-nilainya dalam kehidupan sehari-hari.
Sejumlah persoalan turut dibahas dalam diskusi, mulai dari krisis keteladanan, perkembangan global, krisis ekonomi, persoalan kemanusiaan, hingga berbagai fenomena sosial yang dinilai tidak sejalan dengan nilai-nilai Pancasila.
Sekretaris Jenderal Forum Komunikasi Antar Umat Beragama (FKAUB) Malang Raya, David Tobing, menyoroti kondisi kehidupan berbangsa yang dalam sejumlah aspek dinilai belum sepenuhnya mencerminkan nilai-nilai Pancasila.
Menurut David, persoalan seperti korupsi, ketidakadilan, dan berbagai bentuk perpecahan sosial menjadi contoh masih adanya kesenjangan antara nilai Pancasila dan praktik kehidupan masyarakat.

David juga menyoroti tantangan yang dihadapi generasi muda dalam mencari tontonan sekaligus tuntunan yang dapat menjadi teladan. Menurutnya, minimnya keteladanan di tengah masyarakat menjadi persoalan yang perlu mendapat perhatian bersama.
Selain persoalan generasi muda, FGD membahas isu perempuan dan gender. Budaya patriarki dinilai masih menjadi salah satu tantangan dalam pemenuhan hak-hak perempuan.
Perjuangan mewujudkan kesetaraan dan keadilan bagi perempuan dinilai tetap relevan untuk didorong, sejalan dengan nilai kemanusiaan dan keadilan sosial yang terkandung dalam Pancasila.
Sementara itu, Guru Besar Bidang Sosiologi Wahyudi mengatakan kegiatan tersebut menjadi salah satu instrumen untuk membangun ruang pertemuan antarwarga dengan latar belakang berbeda, baik agama, etnis, maupun budaya.
Menurut Wahyudi, interaksi dan dialog antarkelompok menjadi bagian penting dalam memaknai Pancasila secara konkret. Melalui ruang dialog, masyarakat dapat membangun pemahaman bersama sekaligus memperkuat persatuan di tengah keberagaman.
Melalui FGD tersebut, para peserta diharapkan tidak hanya memahami Pancasila sebagai dasar negara, tetapi juga mampu menjadikannya sebagai pedoman dalam bersikap dan bertindak, khususnya bagi generasi muda, sekaligus memaknai semangat kemerdekaan melalui pengamalan nilai-nilai Pancasila. (jel)






