Malang, http://gajayanatvnews.com – Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPWBI) Malang menghadirkan talk show Fashion Trend Forecast dalam rangkaian Sapta Rona Pesona (SRP) yang digelar di Malang Town Square (Matos), Kamis (30/7/2026). Kegiatan tersebut menghadirkan desainer ternama Indonesia, Musa Widyatmodjo, yang membagikan pandangannya mengenai perkembangan dunia fashion, pentingnya ilmu pengetahuan, hingga tantangan industri kreatif di era kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI).
Dalam paparannya, Musa menegaskan bahwa seorang desainer tidak cukup hanya memiliki kemampuan menggambar atau mendesain. Menurutnya, wawasan dan ilmu pengetahuan menjadi fondasi utama dalam menciptakan karya yang memiliki nilai, karakter, dan identitas yang kuat.
“Pemahaman terhadap tren sangat penting karena mampu memicu kreativitas. Dengan begitu, setiap karya memiliki konsep yang matang, bukan dibuat secara asal,” ujarnya.
Ia menjelaskan bahwa dunia fashion pada dasarnya menjual perbedaan. Karena itu, setiap desainer dituntut mampu membangun identitas melalui pemilihan warna, motif, hingga karakter desain yang khas.
Menurut Musa, warna merupakan elemen pertama yang ditangkap oleh masyarakat ketika melihat sebuah karya fashion. Oleh sebab itu, pemahaman mengenai teori warna menjadi aspek penting dalam menciptakan busana yang memiliki nilai estetika sekaligus daya tarik.

Selain itu, ia menilai perubahan merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari industri fashion. Seorang desainer harus mampu beradaptasi dengan perkembangan zaman tanpa kehilangan ciri khas karyanya.
“Fashion selalu berbicara tentang masa lalu, masa kini, dan masa depan. Perkembangannya akan terus mengikuti perubahan gaya hidup masyarakat,” katanya.
Bagi generasi muda yang ingin berkarier sebagai desainer, Musa berpesan agar terus memperkaya wawasan melalui data, riset, dan fakta mengenai dunia fashion. Menurutnya, keahlian yang lahir dari hasil karya tangan sendiri memiliki nilai yang tidak tergantikan.
Lebih jauh, ia menekankan bahwa fashion bukan sekadar tentang pakaian, tetapi juga tentang bagaimana seorang desainer mampu mengelola keinginan, kebutuhan, dan mimpi manusia ke dalam sebuah karya yang bermakna.
“Karena itu, desainer harus terus belajar dan memperkaya diri dengan ilmu serta informasi agar karya yang dihasilkan tetap relevan dengan kebutuhan masyarakat,” tuturnya.
Menyinggung perkembangan teknologi, Musa mengakui kehadiran AI telah memberikan banyak kemudahan bagi para desainer dalam proses berkarya. Namun, ia mengingatkan agar teknologi dimanfaatkan secara bijak dan tidak menghilangkan sentuhan kreatif manusia.
Menurutnya, karya yang lahir dari keahlian, pengalaman, dan karakter seorang desainer akan selalu memiliki nilai, keunikan, serta identitas yang tidak sepenuhnya dapat digantikan oleh teknologi. (jel)






