Malang, http://gajayanatvnews.com – Mahasiswa Universitas Brawijaya (UB) yang tergabung dalam program Mahasiswa Membangun Desa (MMD UB) 2026 Kelompok 15 di bawah bimbingan Dosen Pembimbing Lapang (DPL) Bayu Indra Pratama, S.I.Kom., M.A. melaksanakan kegiatan sosialisasi beasiswa dan pengenalan Bahasa Mandarin di Desa Rejoyoso, Kecamatan Bantur, Kabupaten Malang, Rabu (15/7/2026). Melalui kegiatan tersebut, mahasiswa hadir secara langsung untuk membuka wawasan siswa SMA/SMK mengenai peluang melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi serta berbagai kesempatan memperoleh beasiswa.
Mengusung tema Sosialisasi Beasiswa dan Pengenalan Bahasa Mandarin, program kerja yang diketuai Kanaya Primanatasya ini lahir dari hasil pengamatan tim selama berbaur dengan warga desa. Mereka mendapati banyak siswa sebenarnya punya keinginan kuat untuk kuliah, tetapi terganjal minimnya informasi soal jalur masuk perguruan tinggi, skema beasiswa, hingga bagaimana rasanya menjalani kehidupan sebagai mahasiswa. Kondisi itu membuat sebagian dari mereka ragu, bahkan enggan membayangkan diri melanjutkan sekolah setelah lulus.

Persoalan ini sejalan dengan data Badan Pusat Statistik (BPS) yang mencatat rata-rata lama sekolah penduduk Indonesia masih berada di bawah jenjang pendidikan tinggi sinyal bahwa kesenjangan akses informasi dan motivasi pendidikan, terutama di wilayah pedesaan, masih menjadi pekerjaan rumah bersama. Berangkat dari situ, mahasiswa MMD UB berinisiatif membuka ruang diskusi agar siswa Rejoyoso punya gambaran lebih terang soal peluang kuliah yang tidak selalu terhalang faktor biaya.
Dalam sesi sosialisasi, mahasiswa memaparkan berbagai jalur beasiswa yang bisa diakses siswa, mulai dari KIP Kuliah, beasiswa internal perguruan tinggi, hingga beasiswa dari perusahaan dan yayasan. Mereka menekankan bahwa beasiswa sejatinya adalah investasi jangka panjang pada sumber daya manusia, bukan sekadar keringanan biaya kuliah. Karena itu, penilaian calon penerima biasanya tidak berhenti pada nilai akademik, tetapi juga mencakup karakter, jiwa kepemimpinan, keaktifan berorganisasi, dan kemampuan komunikasi.
Selain isu beasiswa, kegiatan ini turut memperkenalkan Bahasa Mandarin sebagai salah satu kompetensi global yang kian dicari di dunia kerja maupun dunia pendidikan. Mahasiswa memaparkan peluang karier dan studi yang bisa terbuka lewat penguasaan bahasa tersebut, sekaligus mengenalkan sejumlah media belajar mandiri yang mudah diakses siswa.
Sebagai tindak lanjut, tim MMD UB menghadirkan Perpustakaan Mandarin Digital berupa folder Google Drive berisi puluhan buku elektronik, modul, dan materi pembelajaran Bahasa Mandarin yang dapat diunduh gratis. Fasilitas ini disiapkan agar siswa tetap bisa belajar mandiri meski program sudah berakhir, sekaligus menjawab keterbatasan sumber belajar bahasa asing di desa.
Antusiasme peserta tampak sepanjang acara. Sejumlah siswa aktif bertanya, mulai dari persyaratan beasiswa, tips lolos seleksi, pengalaman hidup sebagai mahasiswa, hingga peluang mendapatkan beasiswa selama masa perkuliahan berlangsung.
Salah satu guru pendamping yang hadir, berinisial L, mengaku terbantu dengan adanya kegiatan ini. “Maturnuwun nggih, Mbak. Banyak anak-anak merasa tidak percaya diri untuk kuliah. Mereka juga sering bingung harus bertanya kepada siapa dan tidak tahu harus mencari informasi dari mana. Kegiatan seperti ini sangat membantu membuka wawasan mereka,” ujarnya.
Ketua pelaksana kegiatan, Kanaya Primanatasya, berharap sosialisasi ini menjadi titik awal bagi siswa Rejoyoso untuk berani bermimpi lebih besar. “Kami berharap kegiatan ini tidak berhenti hanya sebagai sosialisasi. Kami ingin adik-adik di Desa Rejoyoso menyadari bahwa kesempatan untuk kuliah terbuka bagi siapa saja. Informasi yang tepat, motivasi, dan kemauan untuk terus belajar merupakan modal penting dalam meraih cita-cita. Semoga Perpustakaan Mandarin Digital yang kami tinggalkan juga dapat dimanfaatkan sebagai sarana belajar secara berkelanjutan,” katanya.
Program kerja ini merupakan bagian dari upaya mendukung capaian SDGs Desa poin 4 (Pendidikan Berkualitas) dan poin 10 (Desa Tanpa Kesenjangan), melalui pemerataan akses informasi pendidikan, penguatan motivasi melanjutkan studi ke jenjang tinggi, serta penyediaan sumber belajar yang dapat dimanfaatkan masyarakat desa secara berkelanjutan.






