Malang, http://gajayanatvnews.com – Harapan pelajar di Kota Malang untuk segera menikmati layanan angkutan kota gratis masih harus bersabar. Program angkutan pelajar gratis yang sebelumnya ditargetkan mulai berjalan pada Mei 2026 hingga kini belum terealisasi dan masih menunggu penyelesaian sejumlah proses administrasi serta regulasi di tingkat provinsi. Hal tersebut disampaikan oleh salah satu sopir angkot, Supri saat ditemui Gajayana TV pada Selasa, (23/6/2026).
Kondisi ini juga dirasakan para sopir angkot yang sejak awal menaruh harapan besar pada program tersebut sebagai peluang untuk menghidupkan kembali layanan transportasi umum di tengah perubahan pola mobilitas masyarakat. Salah satu sopir angkot, Supri, mengaku hingga akhir Juni belum ada kepastian mengenai pembagian armada maupun pelaksanaan program di lapangan.
“Kami masih menunggu informasi lanjutan. Harapannya program ini benar-benar berjalan dan bisa memberikan manfaat bagi pelajar sekaligus membantu penghasilan sopir,” ujarnya.
Supri berharap pemerintah dapat mengatur jalur operasional antara angkot dan layanan Trans Jatim agar tidak berada pada rute yang sama. “Kalau bisa ada pembagian jalur yang jelas supaya angkot tetap punya penumpang dan sopir masih bisa bertahan,” katanya.
Program ini dirancang untuk menghadirkan layanan antar jemput siswa menggunakan armada angkot pada jam berangkat dan pulang sekolah. Di luar jam tersebut, armada tetap dapat dioperasikan sebagai angkutan feeder yang melayani masyarakat umum.
Dari sekitar 177 armada angkot yang masih aktif di Kota Malang, sebanyak 80 unit direncanakan akan dialihkan untuk mendukung layanan angkutan pelajar. Pemerintah juga disebut telah menyiapkan standar operasional guna memastikan keamanan dan kenyamanan siswa selama menggunakan layanan tersebut.
Namun di balik rencana tersebut, para pengemudi berharap ada pengaturan yang jelas agar keberadaan layanan baru tidak semakin menekan kondisi angkot yang saat ini sudah menghadapi persaingan dengan berbagai moda transportasi modern. Bagi sbagian sopir, menunggu realisasi program bukan hanya soal menanti kebijakan, tetapi juga tentang menjaga harapan di tengah kondisi pendapatan yang terus berubah. Banyak di antara mereka kini harus mencari tambahan penghasilan agar kebutuhan keluarga tetap terpenuhi.
Melalui program angkutan pelajar gratis ini, pemerintah menargetkan tercipta solusi yang saling menguntungkan: pelajar mendapatkan akses transportasi yang aman dan tanpa biaya, sementara pengemudi tetap memperoleh penghasilan yang layak melalui skema dukungan atau pembiayaan dari pemerintah. Kini, yang ditunggu masyarakat bukan lagi sekadar rencana melainkan kepastian kapan layanan tersebut benar-benar mulai berjalan di jalanan Kota Malang.(jel)






